top of page

/do.ku.fi.li.a/ No. 4: Aralkum (2022)

Moses Parlindungan Ompusunggu

26/01/24

Nostalgic environmental filmmaking yang menggugah.

DETAIL FILM

Sutradara: Daniel Asadi Faezi & Mila Zhluktenko

Produser: Daniel Asadi Faezi & Mila Zhluktenko

Sinematografi: Sadriddin Shakhabiddinov

Penyunting: Daniel Asadi Faezi & Mila Zhluktenko

Suara: Fazliddin Musurmonov

Musik: Giovanni Berg

Format: 16 mm

Warna: warna

Durasi: 25 menit


SINOPSIS

Dengan menjahit sejumlah tekstur sinematik yang berbeda, film pendek Aralkum mengimajinasikan ulang keberadaan Laut Aral yang telah mengering, memberikan kesempatan kepada seorang nelayan tua untuk berlayar terakhir kali.


COCOK JADI REFERENSI BIKIN:

  • Dokumenter lingkungan hidup dengan cara puitis dan liris

  • Dokumenter tentang lansia

  • Dokumenter tentang sebuah tempat yang terbengkalai


REFLEKSI

Sebuah film yang sukses secara sinematik -- entah itu fiksi atau nonfiksi -- mampu menyentuh penonton yang terpaut jarak fisik dan sosial-budaya dengan subjek atau cerita dalam karya tersebut. Dan setelah disentuh, penonton akan beraksi guna mencari tahu lebih lanjut tentang filmnya, atau topik yang dikisahkannya. Aralkum, dengan eksperimen-eksperimen penceritaan nostalgiknya, sukses membuat saya langsung Googling soal Laut Aral.


Berada di perbatasan Kazakhstan-Uzbekistan, Laut Aral ternyata saat ini sudah tidak berbekas karena penyusutan volume air secara berkala namun besar-besaran. Sekarang tinggal jadi gurun pasir dengan sebutan Aralkum, yang kemudian jadi judul film minimalis nan dahsyat ini.


Aralkum hanya butuh 14 menit durasi untuk menyebarkan benih-benih empati ke kepala penontonnya. Empati pertama, kepada lingkungan hidup yang rusak -- penyusutan Aral dimulai sejak 1960-an, ketika air dua sungai yang menyuplainya dialihgunakan untuk pengairan pertanian oleh Uni Soviet. Juga empati kepada para nelayan yang hanya bisa mengais nostalgia kejayaan -- mau nangkep ikan apa lagi? Sekarang lautnya tinggal sisa gurun pasir (yang dulunya dasar laut)!


Film ini secara umum memang mengajak penontonnya untuk bernostalgia. Sebagai simbol pemandu menjelajah waktu, seorang bekas nelayan dimunculkan oleh kedua pembuat film. Kita melihat bagaimana bapak tua itu berjalan-jalan menyusuri naik-turunnya gundukan pasir Aralkum, juga lanskap datarnya yang kini ditanami sebuah jenis semak khusus tahan kondisi kering ekstrim.


Saat kamera tidak sedang memperlihatkan si engkong, kita ditunjukkan ke gambaran lanskap-lanskap Aralkum hari ini: kering-kerontang, coklat, kapal-kapal rombeng terbengkalai, dan gemerisik dedaunan di pohon-pohon yang ditiup angin gurun. Perjalanan ini bukan sekadar etalase pemandangan: kedua pembuat film seperti mengajak kita membayangkan suguhan audiovisual itu sebagai petualangan menembus dasar laut. Hal ini terasa manakala suara latar yang digunakan adalah efek suara dari sebuah pergerakan penyelaman di dalam laut.


Aralkum juga mengandaikan Aral hari ini sebagai surganya penangkap ikan. Sebuah adegan memperlihatkan dua nelayan yang sedang menyiapkan jaring dan perahu. Alat tangkap itu kelihatan terbengkalai, kusut, dan berdebu tebal. Adegan itu langsung dilanjutkan dengan rekaman gambar arsip situasi penangkapan ikan di Aral di masa lalu, dengan ikan melimpah-ruah.


Sebagaimana filmnya secara umum, bagian dua nelayan di atas tidak menjelaskan siapa mereka, dan apakah mereka dulunya juga nelayan Aral. Namun film ini rasanya tidak mengejar estetika didaktis, melainkan estetika di level perasaan. Menggugah, bukan menggurui.


Pikir saya, andai lebih banyak dokumenter lingkungan hidup memilih jalan menggugah seperti ini. Saya tidak ingin bilang bahwa menuding-nuding dan mengontraskan the perceived devils vs the perceived victims itu ketinggalan zaman, ya. Tapi, untuk menyelamatkan bumi, kadang-kadang bukan logika kita yang harus dibangunkan, melainkan perasaan kita :)



bottom of page