top of page

/do.ku.fi.li.a/ No. 3: Tambaku Chaakila Oob Ali (1982)

Moses Parlindungan Ompusunggu

17/12/23

Dokumenter militan hasil kerja keras sebuah kolektif sinema feminis India.

DETAIL FILM

Sutradara: Yugantar Film Collective

Produser: A. S. Natraj

Suara: G. V. Somashekhar

Format: 16 mm

Warna: hitam-putih

Durasi: 25 menit


RINGKASAN FILM

Tambaku Chaakila Oob Ali, atau Tobacco Embers dalam judul bahasa Inggris, menelusuri sejarah dan aksi-aksi massa serikat buruh perempuan yang beranggotakan lebih dari 3 ribu pekerja di Nipani (Karnataka, India). Film ini dibuat melalui kolaborasi bersama perempuan pekerja pabrik tembakau. Karya ini merekam, mereka-ulang, dan membahas salah satu pergerakan buruh terbesar di masanya di India.


COCOK JADI BAHAN BELAJAR BIKIN:

  • Dokumenter advokasi

  • Dokumenter tentang perempuan

  • Dokumenter tentang kelompok terpinggirkan

  • Dokumenter tentang eksploitasi buruh


REFLEKSI

Tambaku Chaakila Oob Ali adalah sebuah sinema militan murni. Mereka yang ingin berpraktik dokumenter perlu menontonnya, agar tidak tersesat di perjalanan sebagai pembuat media yang rutin mengeksploitasi kerentanan pihak yang difilmkan -- atas nama "memberikan suara" atau menyuarakan."


Dokumenter ini adalah film kedua Yugantar, kolektif sinema feminis pertama di India yang beranggotakan Abha Bhaiya, Deepa Dhanraj, Meera Rao, dan Navroze Contractor. Aktif di era 1980-an, Yugantar menelurkan 4 film nonfiksi: semuanya dibuat secara kolaboratif dengan kelompok perempuan yang difilmkan.


Saat membuat film ini, Yugantar menghabiskan waktu 4 bulan bersama para perempuan pekerja pabrik tembakau di Nipani, negara bagian Karnataka, India. Dalam waktu itu, Yugantar mengumpulkan kesaksian para perempuan tentang kondisi kerja eksploitatif. Mereka juga bicara soal strategi berserikat dan meluaskan solidaritas ke berbagai pabrik. Semuanya demi terciptanya aksi massa besar-besaran.


Dari kolaborasi tersebut, Yugantar dapat merekam para buruh perempuan di pabrik tempat mereka bekerja. Imaji-imaji perbudakan, kerja-kerja pabrik yang penuh kerentanan. Hanya sebentar terlihat di film, karena bos pabrik hanya mengizinkan tim produksi untuk merekam selama 5 jam di dalam pabrik. Itu juga dalam pengawasan ketat mandor.


Tak hanya itu, film ini juga menyajikan imaji-imaji saat para buruh perempuan berkumpul, bersiasat dalam serikat, dan berunjuk rasa. Tim produksi mengikuti arahan para pekerja perempuan tentang apa, di mana, dan bagaimana mereka semestinya difilmkan. Termasuk bagaimana mereka-ulang adegan unjuk rasa para pekerja perempuan.


Secara durasi, dokumenter ini boleh saja singkat. Tetapi secara substansi, film ini sangat berapi-api -- sekaligus liris -- dalam mengobarkan semangat melawan perburuhan eksploitatif dan peminggiran perempuan.


Komposisi film ini dirajut dengan berbagai elemen. Jalinan yang terbentuk adalah kesatuan audiovisual yang minimalis, masih mempertahankan estetika verite tetapi kuat dengan subjektivitas.


Satu elemen subjektif yang sangat menggugah adalah suara narator tak bernama yang berkisah di sekujur film. Ini adalah sebuah strategi pendekatan yang cerdik sekaligus representatif dalam menggambarkan semangat dan aksi kolektif dari para perempuan pekerja pabrik. Tanpa nama, narator seakan bertindak mewakili keresahan dan ketertindasan kolektif yang sangat, sangat melindas itu.


Dalam satu bagian, narator perempuan itu berkata: "Bahkan seekor anjing bisa duduk di satu tempat dan makan siang dengan tenang. Namun kami tidak seberuntung anjing." Di bagian lain, narator berujar: "Bos kami sangat memanfaatkan posisi kami yang lemah. Kenapa kita tidak memikirkan solusi secara bersama-sama?" -- merujuk ke sebuah ajakan kepada kelompok buruh perempuan di pabrik lain, yang sama-sama ditindas.


Tidak ada musik latar penghadir pilu di film ini. Tidak ada juga shot-shot dramatis yang menunjukkan momen-momen saat protagonisnya meratapi nasib. Namun empati justru bisa lahir dengan sendirinya lewat kombinasi, kontras, dan jukstaposisi antarelemen realis yang digunakan Yugantar sepanjang film.


Pendek kata: sebuah sinema militan murni.

bottom of page